Pelangi
selalu nampak indah. Berwarna mencerahkan dunia. Tiba setelah badai usai. Sama halnya
dengan dirimu. Tiba untuk mewarnai hari-hariku yang suram. Terlihat begitu
indah di mata seluruh makhluk yang ada. Bahkan hanya datang saja, itu rasanya
sudah lebih dari cukup.
Masalah
hadir kian banyak pada saat itu. Aku hanya berteriak tersedu menahan depresi
yang ada. Perlahan semua hilang. Perlahan semua suram. Tak berbekas lagi
kehangatan yang lalu. Semua telah berubah menjadi asing. Entah karena apa, kala
itu.
Aku
tahu jika aku tak bisa menyalahkan siapapun. Semua perubahan yang ada saat itu,
bukan hal yang diinginkan semua orang. Anggap saja aku memang harus melewati
badai ini sendiri. Tanpa bantuan seperti biasanya. Hanya mengandalkan diriku
sendiri.
Kala
itu, kamu datang mengusir badai yang ada. Perlahan aku sadar kalau badai itu
memang perlahan hilang. Kamu adalah pelangiku setelah badai menghadang. Dengan tawamu
yang santai. Logatmu yang khas. Suaramu yang bernyanyi santai diiringi gitar
kesayanganmu.
Aku
ingat segala detail akan dirimu. Candumu pada kopi hitam dengan sedikit gula. Ceritamu
yang tak pernah habis. Caramu mengalihkan pembicaraan setiap gelisah. Hangatnya
kamu dan keluargamu. Candamu yang terdengar begitu polos. Keceriaanmu setiap
bermain. Bahkan kedewasaanmu dalam menghadapiku.
Mungkin
memang menular padaku. Mungkin benar kata orang, kamu memang satu-satunya
dampak baik yang ada. Satu-satunya alasan aku menjadi pribadi lebih baik saat
itu. Penyemangat kala aku lelah. Pendorong kala aku mulai menyerah. Seakan kamu
tak pernah berpikir untuk melepas hempas diriku.
Nyatanya,
kamu memang hanyalah pelangi yang terlalu aku puja. Hingga akhirnya aku lupa
akan fakta penting tentang pelangi. Pelangi tak pernah hadir terlalu lama. Setelah
memberi warna indah lepas badai, disaat semua menatap penuh kagum, perlahan
kamu hilang. Tak berbekas hingga saat ini.
Sayangnya,
kala kamu pergi meninggalkanku yang begitu tiba-tiba itu aku belum siap. Rasanya
masih di puncak perasaan namun harus dihempas dengan kenyataan yang pahit. Tidak,
tentu aja aku tidak bisa menyalahkanmu. Aku percaya jika hubungan adalah
sesuatu yang dimulai dan diakhiri oleh keduanya.
Kamu indah
sungguh. Kamu indah, tetap indah, dan akan selalu indah. Walau keindahanmu
terkadang tak terarah. Persis dengan perasaanku saat ini. Indah walau tak
pernah terarah dengan pasti. Dan kamu lebih indah dibandingkan dengan segala
ilusi terindah yang pernah aku miliki.
Tapi kamu
tetaplah keindahan semu yang pernah aku miliki. Atau sebenarnya masa itu
hanyalah salah satu delusi indah yang tertulis manis dalam pikiranku saja? Mungkin
saja sebenarnya kamu tak pernah ada selama ini. Hanya aku dan kegilaanku
bersama naskah indah yang aku harapkan untuk menjadi kenyataan.
Satu hal
yang pasti. Yang aku tahu saat ini. Kepergian pelangi yang indah sepertimu
dapat meninggalkan lubang besar di hatiku. Kehampaan dalam hidupku yang sempat
berwarna. Hitam putih dalam hidupku hanya semakin suram sejak kamu pergi. Seakan
hanya ada hitam dan kelabu. Hilang sudah putih yang ada dulu.
Ya, setelah
kamu datang mengusir badai, setelah kamu datang memberi warna. Hingga membuatku
terkagum-kagum. Nyatanya, kamu pergi tanpa meninggalkan apa yang kamu beri. Badai
memang telah berlalu. Pelangipun telah redup tak bersisa. Entah ini hari yang
cerah atau mendung jika mataku hanya melihat kelabu dan hitam belaka.
