Jumat, 23 Juni 2017

Pelangi dalam Hidup

Pelangi selalu nampak indah. Berwarna mencerahkan dunia. Tiba setelah badai usai. Sama halnya dengan dirimu. Tiba untuk mewarnai hari-hariku yang suram. Terlihat begitu indah di mata seluruh makhluk yang ada. Bahkan hanya datang saja, itu rasanya sudah lebih dari cukup.

Masalah hadir kian banyak pada saat itu. Aku hanya berteriak tersedu menahan depresi yang ada. Perlahan semua hilang. Perlahan semua suram. Tak berbekas lagi kehangatan yang lalu. Semua telah berubah menjadi asing. Entah karena apa, kala itu.

Aku tahu jika aku tak bisa menyalahkan siapapun. Semua perubahan yang ada saat itu, bukan hal yang diinginkan semua orang. Anggap saja aku memang harus melewati badai ini sendiri. Tanpa bantuan seperti biasanya. Hanya mengandalkan diriku sendiri.

Kala itu, kamu datang mengusir badai yang ada. Perlahan aku sadar kalau badai itu memang perlahan hilang. Kamu adalah pelangiku setelah badai menghadang. Dengan tawamu yang santai. Logatmu yang khas. Suaramu yang bernyanyi santai diiringi gitar kesayanganmu.

Aku ingat segala detail akan dirimu. Candumu pada kopi hitam dengan sedikit gula. Ceritamu yang tak pernah habis. Caramu mengalihkan pembicaraan setiap gelisah. Hangatnya kamu dan keluargamu. Candamu yang terdengar begitu polos. Keceriaanmu setiap bermain. Bahkan kedewasaanmu dalam menghadapiku.

Mungkin memang menular padaku. Mungkin benar kata orang, kamu memang satu-satunya dampak baik yang ada. Satu-satunya alasan aku menjadi pribadi lebih baik saat itu. Penyemangat kala aku lelah. Pendorong kala aku mulai menyerah. Seakan kamu tak pernah berpikir untuk melepas hempas diriku.

Nyatanya, kamu memang hanyalah pelangi yang terlalu aku puja. Hingga akhirnya aku lupa akan fakta penting tentang pelangi. Pelangi tak pernah hadir terlalu lama. Setelah memberi warna indah lepas badai, disaat semua menatap penuh kagum, perlahan kamu hilang. Tak berbekas hingga saat ini.

Sayangnya, kala kamu pergi meninggalkanku yang begitu tiba-tiba itu aku belum siap. Rasanya masih di puncak perasaan namun harus dihempas dengan kenyataan yang pahit. Tidak, tentu aja aku tidak bisa menyalahkanmu. Aku percaya jika hubungan adalah sesuatu yang dimulai dan diakhiri oleh keduanya.

Kamu indah sungguh. Kamu indah, tetap indah, dan akan selalu indah. Walau keindahanmu terkadang tak terarah. Persis dengan perasaanku saat ini. Indah walau tak pernah terarah dengan pasti. Dan kamu lebih indah dibandingkan dengan segala ilusi terindah yang pernah aku miliki.

Tapi kamu tetaplah keindahan semu yang pernah aku miliki. Atau sebenarnya masa itu hanyalah salah satu delusi indah yang tertulis manis dalam pikiranku saja? Mungkin saja sebenarnya kamu tak pernah ada selama ini. Hanya aku dan kegilaanku bersama naskah indah yang aku harapkan untuk menjadi kenyataan.

Satu hal yang pasti. Yang aku tahu saat ini. Kepergian pelangi yang indah sepertimu dapat meninggalkan lubang besar di hatiku. Kehampaan dalam hidupku yang sempat berwarna. Hitam putih dalam hidupku hanya semakin suram sejak kamu pergi. Seakan hanya ada hitam dan kelabu. Hilang sudah putih yang ada dulu.


Ya, setelah kamu datang mengusir badai, setelah kamu datang memberi warna. Hingga membuatku terkagum-kagum. Nyatanya, kamu pergi tanpa meninggalkan apa yang kamu beri. Badai memang telah berlalu. Pelangipun telah redup tak bersisa. Entah ini hari yang cerah atau mendung jika mataku hanya melihat kelabu dan hitam belaka.
 

Cerita Ms. Nerd Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang