Bintang menatap Mentari sendu. Hasrat
ingin menghibur Mentari yang bersedih sangatlah besar. Hatinya sakit setiap
kali Bintang melihat sinar Mentari yang meredup. Ingin sekali Bintang memaki
Bulan yang dengan dinginnya tak pernah acuh terhadap Mentari. Bulan yang begitu
angkuh tuk berpaling menatap Mentari.
Sayangnya, Bintang menyadari
dirinya yang begitu kecil. Apapun yang Bintang lakukan, tentu saja Mentari tak
akan pernah menyadarinya. Bintang tahu jika ia kecil dan nyaris tak terlihat. Sekali
Mentari tersenyum menyapa Bintang. Membuat Bintang ingin meledak bahagia. Tapi sekali
lagi, Bintang segera sadar jika senyuman Mentari bukan tertuju pada Bintang
saja, tapi seluruh bintang yang ada.
Coba bandingkan dengan Mentari
yang ramah dan agung. Bintang yang kecil dan tak terlihat hanya menghela napas.
Bahkan Bintang akan sangat bersyukur jika ada yang menyadari keberadaannya. Atau
bagaimana jika membandingkan Bintang dengan Bulan? Bintang tertawa miris
menyadari dirinya tidak akan pernah seanggun Bulan.
Lalu apa yang Bintang harapkan
dari kecintaannya terhadap Mentari? Entah. Bintangpun hanya tertunduk tanpa
bisa menjawab. Terkadang, Bintang menatap ke arah bumi. Tempat para manusia
bertemu dan saling jatuh cinta. Walau berakhir manis atau pahit. Tapi nyatanya
kisah itu tertulis. Tak seperti kisah cinta Bintang yang tak pernah tertulis. Miris
memang kisah cinta Bintang yang tak terungkapkan.
Mengapa juga Mentari tak menunjuk
satu diantara ribuan bintang yang ada? Seluruh bintang di langit mendambakan
Mentari. Terpesona akibat keagungan yang Mentari miliki. Cukup menunjuk satu
bintang dan semua akan berubah indah. Walau Bintang sendiri yakin jika Mentari
tetap tak akan pernah menunjuk Bintang yang akan menemaninya.
Namun apa kenyataannya? Mentari
begitu bodoh. Masih saja mengharapkan Bulan yang menghadap dirinya. Masih saja
tersenyum dengan berharap sesekali jika Bulan melihat ke arahnya. Berpaling
padanya dan bahagia selamanya. Nyatanya, Bulan tak pernah acuh. Bahkan,
terkadang, Bulan tak menampakkan dirinya.
Sesuka hati! Teriak Bintang
frustrasi. Egois! Maki Bintang kesal. Langit gelap hari itu. Bulan entah hilang
dimana. Tak ada yang tahu keberadaannya. Membuat Mentari enggan bersinar. Redup
seperti harapan. Sakit rasanya menjadi Bintang. Menatap semua drama ini tanpa
bisa berkata-kata. Punya hak apa Bintang yang begitu kecil dalam drama besar
Mentari dan Bulan? Tidak ada.
Manusia larut dalam kesedihan di
malam hari hingga mereka bercakap pada Bintang. Tahu apa manusia akan kesedihan
dan kepedihan? Tak merasakan apa yang dialami Bintang. Manusia lahir dan mati
begitu cepat. Sementara Bintang tetap tegar menatap Mentari yang tak pernah
melihat ke arah Bintang selamanya.
Jika suara Bintang terdengar, mungkin
seluruh manusia menangis mendengar kisah Bintang yang kecil tak dianggap. Mendambakan
Mentari yang agung dengan segala resikonya. Mendamba Mentari yang bahkan tak
pernah sekalipun terbesit melihat Bintang. Mendamba Mentari yang tetap tegar
mencari perhatian Bulan.
Entah mana yang lebih baik. Mentari
yang tak melihat Bintang, tetapi juga tak berbalaskan oleh Bulan. Hingga Bintang
cukup menumpahkan segala masalahnya pada Bulan tanpa peduli perasaan Bulan. Karena
Bulan sendiri nyatanya tak pernah peduli akan Mentari.
Atau melihat Bulan berpaling dan
membalas kasih Mentari. Menatap kisah romantis mereka setiap detik hingga
Bintang hanya membenci dirinya. Membenci dirinya yang tanpa ada harapan. Teronggok
menunggu waktunya redup dan hancur sambil menatap romansa Mentari yang ia damba
bersama Bulan yang menghangat.
