Kamis, 22 Juni 2017

Mencintai yang Begitu Agung

Bintang menatap Mentari sendu. Hasrat ingin menghibur Mentari yang bersedih sangatlah besar. Hatinya sakit setiap kali Bintang melihat sinar Mentari yang meredup. Ingin sekali Bintang memaki Bulan yang dengan dinginnya tak pernah acuh terhadap Mentari. Bulan yang begitu angkuh tuk berpaling menatap Mentari.

Sayangnya, Bintang menyadari dirinya yang begitu kecil. Apapun yang Bintang lakukan, tentu saja Mentari tak akan pernah menyadarinya. Bintang tahu jika ia kecil dan nyaris tak terlihat. Sekali Mentari tersenyum menyapa Bintang. Membuat Bintang ingin meledak bahagia. Tapi sekali lagi, Bintang segera sadar jika senyuman Mentari bukan tertuju pada Bintang saja, tapi seluruh bintang yang ada.

Coba bandingkan dengan Mentari yang ramah dan agung. Bintang yang kecil dan tak terlihat hanya menghela napas. Bahkan Bintang akan sangat bersyukur jika ada yang menyadari keberadaannya. Atau bagaimana jika membandingkan Bintang dengan Bulan? Bintang tertawa miris menyadari dirinya tidak akan pernah seanggun Bulan.

Lalu apa yang Bintang harapkan dari kecintaannya terhadap Mentari? Entah. Bintangpun hanya tertunduk tanpa bisa menjawab. Terkadang, Bintang menatap ke arah bumi. Tempat para manusia bertemu dan saling jatuh cinta. Walau berakhir manis atau pahit. Tapi nyatanya kisah itu tertulis. Tak seperti kisah cinta Bintang yang tak pernah tertulis. Miris memang kisah cinta Bintang yang tak terungkapkan.

Mengapa juga Mentari tak menunjuk satu diantara ribuan bintang yang ada? Seluruh bintang di langit mendambakan Mentari. Terpesona akibat keagungan yang Mentari miliki. Cukup menunjuk satu bintang dan semua akan berubah indah. Walau Bintang sendiri yakin jika Mentari tetap tak akan pernah menunjuk Bintang yang akan menemaninya.

Namun apa kenyataannya? Mentari begitu bodoh. Masih saja mengharapkan Bulan yang menghadap dirinya. Masih saja tersenyum dengan berharap sesekali jika Bulan melihat ke arahnya. Berpaling padanya dan bahagia selamanya. Nyatanya, Bulan tak pernah acuh. Bahkan, terkadang, Bulan tak menampakkan dirinya.

Sesuka hati! Teriak Bintang frustrasi. Egois! Maki Bintang kesal. Langit gelap hari itu. Bulan entah hilang dimana. Tak ada yang tahu keberadaannya. Membuat Mentari enggan bersinar. Redup seperti harapan. Sakit rasanya menjadi Bintang. Menatap semua drama ini tanpa bisa berkata-kata. Punya hak apa Bintang yang begitu kecil dalam drama besar Mentari dan Bulan? Tidak ada.

Manusia larut dalam kesedihan di malam hari hingga mereka bercakap pada Bintang. Tahu apa manusia akan kesedihan dan kepedihan? Tak merasakan apa yang dialami Bintang. Manusia lahir dan mati begitu cepat. Sementara Bintang tetap tegar menatap Mentari yang tak pernah melihat ke arah Bintang selamanya.

Jika suara Bintang terdengar, mungkin seluruh manusia menangis mendengar kisah Bintang yang kecil tak dianggap. Mendambakan Mentari yang agung dengan segala resikonya. Mendamba Mentari yang bahkan tak pernah sekalipun terbesit melihat Bintang. Mendamba Mentari yang tetap tegar mencari perhatian Bulan.

Entah mana yang lebih baik. Mentari yang tak melihat Bintang, tetapi juga tak berbalaskan oleh Bulan. Hingga Bintang cukup menumpahkan segala masalahnya pada Bulan tanpa peduli perasaan Bulan. Karena Bulan sendiri nyatanya tak pernah peduli akan Mentari.


Atau melihat Bulan berpaling dan membalas kasih Mentari. Menatap kisah romantis mereka setiap detik hingga Bintang hanya membenci dirinya. Membenci dirinya yang tanpa ada harapan. Teronggok menunggu waktunya redup dan hancur sambil menatap romansa Mentari yang ia damba bersama Bulan yang menghangat.
 

Cerita Ms. Nerd Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang