Rabu, 21 Juni 2017

Dilema Nyontek atau Nilai Kejujuran

Memasuki dunia perkuliahan di semester 2, membuat mataku terbuka. Disaat yang sama juga menjadi bingung. Ada keadaan dimana melihat orang lain yang melakukan kecurangan dan sukses. Kecurangan seperti menyontek saat ujian sehingga mereka tidak perlu repot belajar. Atau hal sederhana yang terkadang aku sendiripun melakukannya setiap terpaksa. Titip absen.

Sedikit sombong, aku bisa menghitung dengan jari ke’tipsen’an yang telah aku lakukan. Sehari yang isinya ada 3 mata kuliah. Itu juga dikarenakan kondisi yang mendesak, menurutku. Saat itu, aku mengerjakan tugas dari 3 mata kuliah itu, ditambah badan yang sedang kurang sehat, dan adanya isu tentang demonstrasi yang ramai. Bukan masalah takut dengan keadaan demonstrasi saat itu, melainkan dengan kemacetan yang terjadi akibat dari demonstrasi itu.

Sementara untuk kecurangan dalam hal menyontek, aku hanya berani menyontek isi materi tugas. Itupun sebisa mungkin aku selalu memasukan sumber yang aku ‘contekin’ dalam daftar pustaka. Saat ujian, aku berhenti menyontek sejak SMA. Disaat aku mulai menyadari tentang betapa seseorang dapat kecanduan dalam menyontek.

Beberapa kali, aku melihat adanya orang-orang yang menyontek terus-menerus. Dampaknya, tentu saja mereka mendapat nilai yang bagus. Nilai yang bagus itu menghasilkan peringkat yang tinggi juga. Bahkan tak jarang, ada orang yang bermodalkan menyontek tetapi peringkat 10 besar.

Ironisnya, para pelaku menyontek yang mendapat peringkat itu terkadang tidak mengerti suatu isi pokok pembahasan dalam materi. Berbeda dengan orang yang belajar mati-matian walau mereka sadar untuk tidak berharap mendapat peringkat karena kemampuan mereka. Orang yang belajar mati-matian walau tidak mendapat peringkat ini lebih mengerti akan suatu materi.

Banyak pelajar termasuk teman-temanku yang berkata, “salahkan sistem yang melihat hasil bukan proses.” Mungkin, mungkin saja kita harus menyalahkan sistem yang hanya melihat hasil. Seperti orang tua yang mempermasalahkan nilai anaknya tanpa melihat perjuangan yang telah mereka lewati. Atau walikelas yang membahas nilai anak muridnya tentang meningkat atau menurun tanpa membahas bagaimana murid tersebut belajar.

Banyak hal yang dapat disalahkan. Sama seperti aku menyalahkan kondisi yang membuat saya titip absen. Sayangnya, sebut saja aku sebagai mahasiswi idealis. Beberapa orang terdekatku mengatakan kalau pemikiranku masih idealis. Entah pemikiran yang dianggap orang-orang idealis ini akan terus bertahan atau tidak.

Aku berpikir untuk tidak menyontek saat ujian. Masih berpikir untuk mendapat IPK yang tinggi entah untuk apa. Yang jelas, sampai saat ini aku masih berusaha untuk mendapat IPK yang baik tanpa melakukan kecurangan sedikitpun. Dengan dasar kalimat bisa karena biasa. Ya, orang yang terlihat santai saat menyontek karena sudah terbiasa.

Dulu, pertama kali aku mengernyit jijik melihat mayoritas orang menyontek, aku sendiri merasa kesusahan untuk tidak menyontek. Karena terbiasa menyontek saat SMP. Tapi dalam kegalauan itu, untunglah aku dapat bertahan. Aku berhasil melewati masa SMA tanpa menyontek walau beberapa kali tergoda.

Tetapi sampai kemarin, aku melihat IP semester terbaru. IP yang merosot dibandingkan semester lalu. Tambah sakit mendengar IP orang sekelilingku yang menyontek dan mendapat hasil lebih tinggi dibanding punyaku. Sangat jauh lebih tinggi dibanding IP yang aku miliki. Beberapa kali memaki dan merenung. Bisikan setan terdengar halus untuk mengikuti mereka. Menyontek.

Terlebih ada orang yang parasit dalam tugas. Mungkin banyak yang bilang, “masa hanya karena tugas doang sih sampai ngorbanin pertemanan?” maaf, tapi menurutku yang ‘egois’ ini, “masa hanya karena teman yang bahkan gak peduli tugas doang sih sampai ngorbanin nilai sendiri?” pernah gak kalian yang numpang nama itu berpikir tentang betapa lelahnya orang yang mengerjakan tugas kalian? Aku, jujur, beberapa kali jatuh sakit karena begadang mengerjakan tugas yang seharusnya kalian kerjakan.

Ditambah ternyata orang-orang yang menumpang nama dalam suatu tugas mendapat hasil akhir lebih tinggi daripada yang kerja keras mengerjakan. Uwih, mungkin dalam tubuh mereka memiliki semanggi berdaun empat. Berbeda dengan orang yang berusaha keras tetapi hasilnya di bawah para pemakai jalan pintas. Jika dilihat, apakah orang yang tidak mau menulis para pelaku numpang nama adalah egois? Atau malah sebenarnya pelaku numpang namalah yang egois? Itu persepsiku. Setiap manusia pasti punya persepsi yang berbeda.

 

Cerita Ms. Nerd Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang