Memasuki dunia perkuliahan di semester 2, membuat
mataku terbuka. Disaat yang sama juga menjadi bingung. Ada keadaan dimana
melihat orang lain yang melakukan kecurangan dan sukses. Kecurangan seperti
menyontek saat ujian sehingga mereka tidak perlu repot belajar. Atau hal
sederhana yang terkadang aku sendiripun melakukannya setiap terpaksa. Titip absen.
Sedikit sombong, aku bisa menghitung dengan jari
ke’tipsen’an yang telah aku lakukan. Sehari yang isinya ada 3 mata kuliah. Itu
juga dikarenakan kondisi yang mendesak, menurutku. Saat itu, aku mengerjakan
tugas dari 3 mata kuliah itu, ditambah badan yang sedang kurang sehat, dan
adanya isu tentang demonstrasi yang ramai. Bukan masalah takut dengan keadaan
demonstrasi saat itu, melainkan dengan kemacetan yang terjadi akibat dari
demonstrasi itu.
Sementara untuk kecurangan dalam hal menyontek,
aku hanya berani menyontek isi materi tugas. Itupun sebisa mungkin aku selalu
memasukan sumber yang aku ‘contekin’ dalam daftar pustaka. Saat ujian, aku
berhenti menyontek sejak SMA. Disaat aku mulai menyadari tentang betapa
seseorang dapat kecanduan dalam menyontek.
Beberapa kali, aku melihat adanya orang-orang
yang menyontek terus-menerus. Dampaknya, tentu saja mereka mendapat nilai yang
bagus. Nilai yang bagus itu menghasilkan peringkat yang tinggi juga. Bahkan tak
jarang, ada orang yang bermodalkan menyontek tetapi peringkat 10 besar.
Ironisnya, para pelaku menyontek yang mendapat peringkat itu
terkadang tidak mengerti suatu isi pokok pembahasan dalam materi. Berbeda dengan
orang yang belajar mati-matian walau mereka sadar untuk tidak berharap mendapat
peringkat karena kemampuan mereka. Orang yang belajar mati-matian walau tidak
mendapat peringkat ini lebih mengerti akan suatu materi.
Banyak pelajar termasuk teman-temanku yang berkata, “salahkan
sistem yang melihat hasil bukan proses.” Mungkin, mungkin saja kita harus
menyalahkan sistem yang hanya melihat hasil. Seperti orang tua yang
mempermasalahkan nilai anaknya tanpa melihat perjuangan yang telah mereka
lewati. Atau walikelas yang membahas nilai anak muridnya tentang meningkat atau
menurun tanpa membahas bagaimana murid tersebut belajar.
Banyak hal yang dapat disalahkan. Sama seperti aku
menyalahkan kondisi yang membuat saya titip absen. Sayangnya, sebut saja aku
sebagai mahasiswi idealis. Beberapa orang terdekatku mengatakan kalau
pemikiranku masih idealis. Entah pemikiran yang dianggap orang-orang idealis
ini akan terus bertahan atau tidak.
Aku berpikir untuk tidak menyontek saat ujian. Masih berpikir
untuk mendapat IPK yang tinggi entah untuk apa. Yang jelas, sampai saat ini aku
masih berusaha untuk mendapat IPK yang baik tanpa melakukan kecurangan
sedikitpun. Dengan dasar kalimat bisa karena biasa. Ya, orang yang terlihat
santai saat menyontek karena sudah terbiasa.
Dulu, pertama kali aku mengernyit jijik melihat mayoritas
orang menyontek, aku sendiri merasa kesusahan untuk tidak menyontek. Karena terbiasa
menyontek saat SMP. Tapi dalam kegalauan itu, untunglah aku dapat bertahan. Aku
berhasil melewati masa SMA tanpa menyontek walau beberapa kali tergoda.
Tetapi sampai kemarin, aku melihat IP semester terbaru. IP
yang merosot dibandingkan semester lalu. Tambah sakit mendengar IP orang
sekelilingku yang menyontek dan mendapat hasil lebih tinggi dibanding punyaku. Sangat
jauh lebih tinggi dibanding IP yang aku miliki. Beberapa kali memaki dan
merenung. Bisikan setan terdengar halus untuk mengikuti mereka. Menyontek.
Terlebih ada orang yang parasit dalam tugas. Mungkin banyak
yang bilang, “masa hanya karena tugas doang sih sampai ngorbanin pertemanan?”
maaf, tapi menurutku yang ‘egois’ ini, “masa hanya karena teman yang bahkan gak
peduli tugas doang sih sampai ngorbanin nilai sendiri?” pernah gak kalian yang
numpang nama itu berpikir tentang betapa lelahnya orang yang mengerjakan tugas
kalian? Aku, jujur, beberapa kali jatuh sakit karena begadang mengerjakan tugas
yang seharusnya kalian kerjakan.
Ditambah ternyata orang-orang yang menumpang nama dalam suatu
tugas mendapat hasil akhir lebih tinggi daripada yang kerja keras mengerjakan. Uwih,
mungkin dalam tubuh mereka memiliki semanggi berdaun empat. Berbeda dengan
orang yang berusaha keras tetapi hasilnya di bawah para pemakai jalan pintas. Jika
dilihat, apakah orang yang tidak mau menulis para pelaku numpang nama adalah
egois? Atau malah sebenarnya pelaku numpang namalah yang egois? Itu persepsiku.
Setiap manusia pasti punya persepsi yang berbeda.
