Aku duduk di bangku
lapangan dekat rumah tempatku bermain dengan sahabat masa kecilku. Kudongakkan
kepalaku menatap birunya langit. Biru langit dan putih awan membuat kenanganku
bersama dia semakin kuat. Kuhela napas dan menikmati hembusan angin yang
membuat rambutku menari mengikuti irama angin.
Gadis
kecil asyik berteriak dengan tangan terbuka lebar. Pandangannya lurus ke atas.
Beranggapan ia sedang berlari secepat angin. Teriakannya melengking dengan
selingan tawa yang terdengar begitu puas. Di depannya, ada seorang lelaki kecil
tengah mengayuh sepeda cepat agar gadis yang dibawanya bahagia.
Gadis
kecil dengan rambut ikal tipis, memakai celana pendek dan kaos yang membuat
tubuhnya yang kurus terlihat jelas. Tubuh kurusnya bukan karena kekurangan
asupan makanan, melainkan karena gadis tersebut hanya mau makan kalau ia sedang
bermain bersama temannya. Wajah gadis kecil terlihat selalu ceria dengan lesung
pipit manisnya. Seakan ia tak pernah merasakan lara.
Sedangkan
lelaki yang mengayuh sepeda di depannya, bertubuh jauh lebih tinggi dan besar
dibanding gadis kecil. Rambutnya lurus dan tebal, berantakan dan jabrik, khas
rambut anak kecil. Dengan celana training dan kaos, membuat tubuhnya terlihat
semakin tinggi besar saja. Bila diperhatikan seksama, ada kilatan jahil di mata
lelaki tersebut.
Mereka
tertawa bersama. Terlihat begitu abadi dan kekal. Dengan celotehan yang sangat
polos keluar dari bibir mungil mereka. Percaya kalau persahabatan mereka akan
abadi. Seperti mereka percaya kalau mereka dapat menyentuh langit saat dewasa
kelak. Atau seperti mereka percaya kalau bermain lewat maghrib, mereka akan
diculik hantu.
Tidak,
belum ada perbedaan yang begitu berarti hingga menjadikan jurang jarak hubungan
mereka. Tidak ada sibuk dengan kegiatan hingga lupa bertemu. Tidak ada canggung
hingga malu untuk sekedar menyapa. Tidak ada masalah yang mereka kenal seperti
sekarang, hingga mencari pelarian dari masalah.
Aku
dengan pergaulanku, dan kamu dengan pergaulanmu juga.
Aku tersadar dari
lamunan. Kulihat jam tangan snoopy pemberiannya saat ulang tahunku yang ke 5.
Jam yang selalu melingkar di lenganku. Sebentar lagi sahabatku pulang ke rumah.
Aku yakin sekali dia akan lewat lapangan ini seperti biasa. Walau ada jalan
belakang yang lebih dekat, entah mengapa ia selalu lewat lapangan ini.
Benar saja, dengan
seragamnya yang berantakan, keringat membasahi tubuhnya, ia berjalan melewati
lapangan ini. Rambutnya yang berantakan tertiup angin. Ada bercak darah yang
dapat kulihat di bajunya. Wajahnya yang begitu menunjukan sikap kerasnya
terlihat letih dan gelap. Seakan ada masalah yang menutupi wajahnya. Berbeda
dari saat kecil, wajahnya selalu cerah dengan senyum menghiasi wajahnya.
Lelaki
berbadan tinggi besar duduk sendirian di lapangan. Menunggu dengan sabar
temannya datang ke lapangan. Walau ia tak paham dengan jam, tapi ia tahu kalau
posisi jarum panjang berada di angka 6, dan jarum pendek ada di antara angka 3
dan 4, maka temannya akan lari menghampirinya dari rumah.
Tapi
bahkan hingga ia dipanggil pulang karena waktunya ia mandi, orang yang ia
harapkan hadir tak kunjung datang. Waktu berlalu dengan cepat, seakan ia belum
puas menunggu. Berbulan-bulan dihabiskan untuk menunggu orang yang tak kunjung
datang. Hingga akhirnya ia menyerah. Tak kuat bila harus menunggu lebih lama
lagi.
Akhirnya
ia mulai bergaul dengan orang yang baru. Terus bergaul semakin dekat dengan
mereka. Perlahan namun pasti, pribadinya berubah akibat pengaruh lingkungan.
Dari seorang lelaki polos yang selalu berusaha melindungi temannya, menjadi
lelaki kasar yang cuek dengan orang lain. Bahkan ia lupa pribadinya yang dulu.
Ia lupa hubungannya dengan sahabatnya saat kecil.
Seperti biasa, matanya
selalu menatap ke bawah. Ke lantai lapangan ini. membuatku turut melihat lantai
lapangan. Lantai dengan cat yang sudah mulai memudar dimakan usia. Seperti
hubungan pertemananku dengan sahabatku. Memudar perlahan namun pasti dimakan
usia. Tak secerah sekian tahun silam. Saat aku dan dirinya masih asyik tertawa
bersama di sini.
Gadis
berambut ikal dengan kacamata menghiasi wajahnya. Terlihat jauh lebih cantik
dan manis dengan kacamatanya. Ia sering merasa minder kalau ia melihat
teman-teman perempuannya yang tampak lebih cantik. Tapi perlahan, ia mulai
percaya diri. Toh, ibunya selalu berkata kalau wajahnya tak kalah dengan artis
muda.
Disaat
semua temannya asyik berceloteh tentang kaum adam, gadis tersebut masih asyik
dengan dunianya sendiri bersama buku-buku novel bacaannya dan imajinasi
miliknya yang luas. Bahkan disaat temannya asyik berbincang tentang alat
kecantikan yang mereka kenakan, ia masih menggunakan minyak telon dan bedak
bayi. Seperti kebiasaanya sejak kecil.
Gadis
tersebut mulai merasa sulit mendapat teman yang sepemikiran dengannya. Tak ada
yang tertarik mendengarkan celotehnya tentang imajinasi yang terbesit di
otaknya. Semua memandangnya dengan aneh setiap ia mengeluarkan pendapat tentang
suatu hal yang kurang lumrah di masyarakat umum.
Perlahan,
ia merasa sendirian. Kesepian tanpa teman yang selalu ada untuk mendengar. Gadis
tersebut sadar kalau waktunya sudah ia habiskan untuk membaca buku di dalam
rumah. Melupakan sahabatnya yang hanya menunggu dirinya keluar rumah untuk
bermain bersama.
Sudah sekian tahun
lamanya aku menyadari kalau pertemananku dengannya sudah pudar termakan usia.
Dan saat tersadar itu, aku selalu duduk di bangku yang sama, jam yang sama,
untuk tujuan yang sama. Melihat tubuhnya tanpa tertarik menyapa dirinya. Bukan,
bukan maksud hati sombong seperti yang dipikirkan orang-orang. Hanya saja aku
merasa kalau aku dan dia memiliki tembok kasat mata yang membatasi kami.
Lapangan ini bisa
dibilang sebagai saksi bisu kedekatanku dengan dia. Aku ingat dengan jelas,
saat-saat aku bermain dengan dia di sini. Tertawa bersamanya, bahkan cemberut
setiap kami harus berpisah karena sudah waktunya kami mandi. Aku juga ingat
teriakan histerisku saat ia mengayuh sepeda dengan cepat. Membuatku merasakan
suasana terbang karena angin meniup wajahku.
Aku ingat, aku dan dia
sudah bermain di sini sejak usia kami masih seumur jagung. Mulai belajar
berjalan bersama ibu kami masing-masing sampai akhirnya bermain bersama. Aku
ingat, dia sejak kecil begitu suka naik sepeda, sehingga aku selalu duduk di
bangku belakang sepedanya, berjalan-jalan hingga kami lelah. Bukan, lebih
tepatnya, hingga dia lelah.
Disaat mengenang semua
kenangan bersama dengan dirinya, aku menikmati angin yang berhembus. Meniup
wajahku lembut, selembut putihnya awan di atas kepalaku. Kuarahkan tanganku ke
arah langit, persis seperti yang suka ia lakukan saat kecil. Dengan pikiran
kalau awan begitu dekat. Berharap ia segera menjadi dewasa agar dapat menyentuh
awan yang tampak begitu lembut.
Aku tersenyum mengingat
itu. Senyuman nostalgia. Senyuman akan kerinduan masa lalu yang begitu polos
dan bahagia. Kubenarkan posisi kacamata tebalku dan mengingat kejadian di
sekolah. Entah apa yang salah dariku. Tak ada seorangpun yang mau berteman
denganku di sekolah sejak dulu. Mungkin karena aku terlalu takut dengan mereka
juga. Entahlah.
Batinku berkecamuk
seperti biasa. pikiranku selalu sensitif setiap ingat akan kerasnya pergaulan
yang harus kulalui setiap hari. Ditambah lagi jarak memisahkanku dengan lelaki
yang dulu selalu ada untukku. Membuatku mengacak rambut frustrasi. Memikirkan
cara untuk memulai perbincangan tanpa canggung.
Gadis
berambut ikal tersadar kalau saat ia kecil, dirinya tak kesepian seperti ini.
Ada telinga yang selalu mendengar celoteh asal tentang khayalannya. Ada mata
yang selalu menatapnya kala ia bertemu. Ada tangan yang siap merangkul tubuh
mungilnya agar tetap bergerak. Ada bibir yang siap tersenyum dan berkata setiap
ia berceloteh. Ada tubuh yang siap maju untuk melindungi. Dan ada kaki yang
siap berlari bersamanya sepanjang waktu.
Ia
mulai berjalan ke arah tempatnya biasa bertemu dengan tubuh yang seakan hadir
hanya untuk dirinya. Berharap orang yang ia tunggu datang dan tersenyum.
Berharap dapat bercengkerama seperti dulu. Berharap ada kesempatan kedua
untuknya memperbaiki kesalahan. Tapi harapan tinggallah harapan.
Harapannya
pupus tepat saat matanya menatap orang yang ditunggu hadir. Berjalan santai
tanpa peduli lingkungan sekitar. Seakan tak menyadari ada seorang gadis dengan
tatapan merindu tengah menatapnya. Sosok itu memasukan benda berbentuk tabung
kecil tapi panjang ke dalam mulutnya. Menghisap benda tersebut dalam-dalam, dan
menghembuskan asapnya. Ya, sosok itu merokok.
Bagai
tersambar petir di siang bolong, bibir yang siap berucap seketika kelu karena
pemandangan di hadapannya. Seakan itu adalah lakban yang dibuat secara kasat
mata untuk membungkam bibir tipis tersebut. Adegan sahabatnya merokok kembali
tertangkap matanya. Membuat hati sang gadis teriris. Ia tak pernah menyangka
sahabatnya akan melakukan tindakan nakal seperti itu.
Lelaki dengan celana
jeans dan kaos berwarna biru tua, berjalan keluar rumah. Terlihat pas dengan
tubuhnya yang proporsinal. Wajahnya yang tadi terlihat kusam, sekarang terlihat
lebih baik. Sepertinya ia sudah mandi sebelumnya. Walau gelap wajahnya tak
berkurang banyak. Dan rambut yang tadi berantakan, sekarang tersisir lebih
rapi. Aku yakin kalau lelaki yang kupandangi, sahabatku sendiri, akan pergi ke
tempat tongkrongannya. Aku tak suka tapi tak punya hak untuk melarangnya juga.
Langkahnya persis sama
dengan biasanya. Aku seperti stalker yang selalu tahu tentang dirinya. Menatap
semua pergerakan yang ia lakukan. Untuk waktu yang cukup lama di tempat ini.
hanya dapat menghembuskan napas dan berjalan pulang selepas menatap tubuh itu.
Walau hati kecil merasa berdosa karena tak pernah bisa membawanya menjadi
pribadi yang lebih baik lagi.
Sudah
berbulan-bulan gadis tersebut duduk di bangku lapangan hanya untuk melihat
sahabat masa kecilnya yang telah berubah. Walau ia tahu sahabatnya sudah
berubah drastis hingga mengerikan seperti itu, ia tetap menunggu kehadiran
sahabatnya itu. Ada bisikan lembut yang berkata kalau ia butuh sosok lelaki
itu.
Penantiannya
berlangsung terus menerus. Dengan bibir yang melafalkan doa agar sahabatnya
bisa sadar dan berhenti seperti ini. Mata yang tak henti menatap fisiknya dari
jauh. Otak yang terus memutar kenangan lama berulang hingga tampak seperti
kaset rusak. Dan hati yang teriris tanpa henti karena merasa gagal sebagai
sahabat.
Hatinya
bergemuruh. Suara hatinya berteriak untuk mematikan ego dan berlari menghampiri
sahabatnya. Mengingatkan kalau semua yang ia lakukan salah. Tapi, apa daya,
keraguan menghalangi segala tindakannya. Ia tetap takut bertindak.
Bagaimana
kalau dia dianggap cerewet? Bagaimana kalau dirinya tak diingat lagi? bagaimana
kalau dia hanya dianggap angin lalu? Bagaimana kalau dia malah dimarahi karena
sok menjadi pahlawan. Walau nyatanya ia pahlawan kesiangan.
Pikirannya
terus membuatnya takut bertindak. Selama ini, walau hati berkata ya, logika
berkata jangan. Bukan, bukan logika, sepertinya ego. Sepertinya aku masih memiliki
ego yang tinggi seperti yang selama ini dilontarkan sahabatnya saat mereka
masih kecil.
Tapi hari ini berbeda,
dia berhenti di tengah lapangan dan menatapku. Aku seperti masuk ke dalam
matanya. Tatapannya yang biasa saja entah mengapa terlihat dalam dan memahami.
Aku merasa semua luka, takut, dan cemas hilang begitu saja. Hanya sebentar, dan
dia lanjut berjalan. Beberapa detik yang terasa begitu berarti.
Bisakah aku memutar waktu
ke masa lalu? Ke masa dimana kita mulai sibuk dengan kegiatan sekolah. Masa
dimana kita mulai mencari jati diri kita sesungguhnya. Masa dimana aku tak
hanya memandangmu seperti ini. Seakan kau adalah matahari yang menghidupiku.
Matahari yang terlihat begitu dekat, namun sebenarnya jauh. Masa dimana kita
sedekat nadi.
Lamunanku seketika buyar
karena tepukan lembut di pundakku. Aku mengikuti arah tangan yang menepukku.
Dan berdiri di hadapanku seorang bertubuh tinggi besar, dengan segala bentuk
cetakan tubuhnya yang selalu terpatri di benakku. Ditambah dengan aroma tubuh
yang selalu saja sama walau sudah berlalu sekian tahun.
Gadis
kecil memeluk leher lelaki di hadapannya dengan santai di atas sepeda. Menjaga
agar tubuhnya tak terjatuh dari sepeda dengan memegang, bukan, memeluk leher
pembawa sepeda. Angin menghembuskan aroma tubuh asli lelaki di depannya.
Aroma
sabun mandi bercampur dengan keringat. Tak banyak orang yang menyukai aroma
ini. tapi gadis kecil sangat menyukai aroma tubuh yang ia hirup. Rasanya begitu
menenangkan hanya dengan menghirup aroma tubuh itu.
Terlalu
sering mencium aroma tubuh tersebut pun berefek samping lumayan besar. Ia dapat
merasakan kehadiran sahabatnya walau masih berjarak sekian meter. Dapat tenang
hanya dengan mencium aroma tersebut. Dapat mengingat hingga kapanpun akan bau
ini.
Sosok itu menatap mataku
dalam, membuatku tak berkutik karena tatapan matanya. Hembusan napas hangat nan
teratur yang selalu aku ingat. Senyuman yang walau berbeda, tetapi aku tahu
kalau senyum itu hanya miliknya. Ada khas yang tak dapat aku jelaskan tapi aku
mengenalinya dengan sangat baik.
Ya, orang yang menepuk
pundakku memang dia yang kurindukan selama ini.
