Rabu, 21 Juni 2017

Dia yang Kurindu

Aku duduk di bangku lapangan dekat rumah tempatku bermain dengan sahabat masa kecilku. Kudongakkan kepalaku menatap birunya langit. Biru langit dan putih awan membuat kenanganku bersama dia semakin kuat. Kuhela napas dan menikmati hembusan angin yang membuat rambutku menari mengikuti irama angin.

Gadis kecil asyik berteriak dengan tangan terbuka lebar. Pandangannya lurus ke atas. Beranggapan ia sedang berlari secepat angin. Teriakannya melengking dengan selingan tawa yang terdengar begitu puas. Di depannya, ada seorang lelaki kecil tengah mengayuh sepeda cepat agar gadis yang dibawanya bahagia.

Gadis kecil dengan rambut ikal tipis, memakai celana pendek dan kaos yang membuat tubuhnya yang kurus terlihat jelas. Tubuh kurusnya bukan karena kekurangan asupan makanan, melainkan karena gadis tersebut hanya mau makan kalau ia sedang bermain bersama temannya. Wajah gadis kecil terlihat selalu ceria dengan lesung pipit manisnya. Seakan ia tak pernah merasakan lara.

Sedangkan lelaki yang mengayuh sepeda di depannya, bertubuh jauh lebih tinggi dan besar dibanding gadis kecil. Rambutnya lurus dan tebal, berantakan dan jabrik, khas rambut anak kecil. Dengan celana training dan kaos, membuat tubuhnya terlihat semakin tinggi besar saja. Bila diperhatikan seksama, ada kilatan jahil di mata lelaki tersebut.

Mereka tertawa bersama. Terlihat begitu abadi dan kekal. Dengan celotehan yang sangat polos keluar dari bibir mungil mereka. Percaya kalau persahabatan mereka akan abadi. Seperti mereka percaya kalau mereka dapat menyentuh langit saat dewasa kelak. Atau seperti mereka percaya kalau bermain lewat maghrib, mereka akan diculik hantu.

Tidak, belum ada perbedaan yang begitu berarti hingga menjadikan jurang jarak hubungan mereka. Tidak ada sibuk dengan kegiatan hingga lupa bertemu. Tidak ada canggung hingga malu untuk sekedar menyapa. Tidak ada masalah yang mereka kenal seperti sekarang, hingga mencari pelarian dari masalah.

Aku dengan pergaulanku, dan kamu dengan pergaulanmu juga.

Aku tersadar dari lamunan. Kulihat jam tangan snoopy pemberiannya saat ulang tahunku yang ke 5. Jam yang selalu melingkar di lenganku. Sebentar lagi sahabatku pulang ke rumah. Aku yakin sekali dia akan lewat lapangan ini seperti biasa. Walau ada jalan belakang yang lebih dekat, entah mengapa ia selalu lewat lapangan ini.

Benar saja, dengan seragamnya yang berantakan, keringat membasahi tubuhnya, ia berjalan melewati lapangan ini. Rambutnya yang berantakan tertiup angin. Ada bercak darah yang dapat kulihat di bajunya. Wajahnya yang begitu menunjukan sikap kerasnya terlihat letih dan gelap. Seakan ada masalah yang menutupi wajahnya. Berbeda dari saat kecil, wajahnya selalu cerah dengan senyum menghiasi wajahnya.

Lelaki berbadan tinggi besar duduk sendirian di lapangan. Menunggu dengan sabar temannya datang ke lapangan. Walau ia tak paham dengan jam, tapi ia tahu kalau posisi jarum panjang berada di angka 6, dan jarum pendek ada di antara angka 3 dan 4, maka temannya akan lari menghampirinya dari rumah.

Tapi bahkan hingga ia dipanggil pulang karena waktunya ia mandi, orang yang ia harapkan hadir tak kunjung datang. Waktu berlalu dengan cepat, seakan ia belum puas menunggu. Berbulan-bulan dihabiskan untuk menunggu orang yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya ia menyerah. Tak kuat bila harus menunggu lebih lama lagi.

Akhirnya ia mulai bergaul dengan orang yang baru. Terus bergaul semakin dekat dengan mereka. Perlahan namun pasti, pribadinya berubah akibat pengaruh lingkungan. Dari seorang lelaki polos yang selalu berusaha melindungi temannya, menjadi lelaki kasar yang cuek dengan orang lain. Bahkan ia lupa pribadinya yang dulu. Ia lupa hubungannya dengan sahabatnya saat kecil.

Seperti biasa, matanya selalu menatap ke bawah. Ke lantai lapangan ini. membuatku turut melihat lantai lapangan. Lantai dengan cat yang sudah mulai memudar dimakan usia. Seperti hubungan pertemananku dengan sahabatku. Memudar perlahan namun pasti dimakan usia. Tak secerah sekian tahun silam. Saat aku dan dirinya masih asyik tertawa bersama di sini.

Gadis berambut ikal dengan kacamata menghiasi wajahnya. Terlihat jauh lebih cantik dan manis dengan kacamatanya. Ia sering merasa minder kalau ia melihat teman-teman perempuannya yang tampak lebih cantik. Tapi perlahan, ia mulai percaya diri. Toh, ibunya selalu berkata kalau wajahnya tak kalah dengan artis muda.

Disaat semua temannya asyik berceloteh tentang kaum adam, gadis tersebut masih asyik dengan dunianya sendiri bersama buku-buku novel bacaannya dan imajinasi miliknya yang luas. Bahkan disaat temannya asyik berbincang tentang alat kecantikan yang mereka kenakan, ia masih menggunakan minyak telon dan bedak bayi. Seperti kebiasaanya sejak kecil.

Gadis tersebut mulai merasa sulit mendapat teman yang sepemikiran dengannya. Tak ada yang tertarik mendengarkan celotehnya tentang imajinasi yang terbesit di otaknya. Semua memandangnya dengan aneh setiap ia mengeluarkan pendapat tentang suatu hal yang kurang lumrah di masyarakat umum.

Perlahan, ia merasa sendirian. Kesepian tanpa teman yang selalu ada untuk mendengar. Gadis tersebut sadar kalau waktunya sudah ia habiskan untuk membaca buku di dalam rumah. Melupakan sahabatnya yang hanya menunggu dirinya keluar rumah untuk bermain bersama.

Sudah sekian tahun lamanya aku menyadari kalau pertemananku dengannya sudah pudar termakan usia. Dan saat tersadar itu, aku selalu duduk di bangku yang sama, jam yang sama, untuk tujuan yang sama. Melihat tubuhnya tanpa tertarik menyapa dirinya. Bukan, bukan maksud hati sombong seperti yang dipikirkan orang-orang. Hanya saja aku merasa kalau aku dan dia memiliki tembok kasat mata yang membatasi kami.

Lapangan ini bisa dibilang sebagai saksi bisu kedekatanku dengan dia. Aku ingat dengan jelas, saat-saat aku bermain dengan dia di sini. Tertawa bersamanya, bahkan cemberut setiap kami harus berpisah karena sudah waktunya kami mandi. Aku juga ingat teriakan histerisku saat ia mengayuh sepeda dengan cepat. Membuatku merasakan suasana terbang karena angin meniup wajahku.

Aku ingat, aku dan dia sudah bermain di sini sejak usia kami masih seumur jagung. Mulai belajar berjalan bersama ibu kami masing-masing sampai akhirnya bermain bersama. Aku ingat, dia sejak kecil begitu suka naik sepeda, sehingga aku selalu duduk di bangku belakang sepedanya, berjalan-jalan hingga kami lelah. Bukan, lebih tepatnya, hingga dia lelah.

Disaat mengenang semua kenangan bersama dengan dirinya, aku menikmati angin yang berhembus. Meniup wajahku lembut, selembut putihnya awan di atas kepalaku. Kuarahkan tanganku ke arah langit, persis seperti yang suka ia lakukan saat kecil. Dengan pikiran kalau awan begitu dekat. Berharap ia segera menjadi dewasa agar dapat menyentuh awan yang tampak begitu lembut.

Aku tersenyum mengingat itu. Senyuman nostalgia. Senyuman akan kerinduan masa lalu yang begitu polos dan bahagia. Kubenarkan posisi kacamata tebalku dan mengingat kejadian di sekolah. Entah apa yang salah dariku. Tak ada seorangpun yang mau berteman denganku di sekolah sejak dulu. Mungkin karena aku terlalu takut dengan mereka juga. Entahlah.

Batinku berkecamuk seperti biasa. pikiranku selalu sensitif setiap ingat akan kerasnya pergaulan yang harus kulalui setiap hari. Ditambah lagi jarak memisahkanku dengan lelaki yang dulu selalu ada untukku. Membuatku mengacak rambut frustrasi. Memikirkan cara untuk memulai perbincangan tanpa canggung.

Gadis berambut ikal tersadar kalau saat ia kecil, dirinya tak kesepian seperti ini. Ada telinga yang selalu mendengar celoteh asal tentang khayalannya. Ada mata yang selalu menatapnya kala ia bertemu. Ada tangan yang siap merangkul tubuh mungilnya agar tetap bergerak. Ada bibir yang siap tersenyum dan berkata setiap ia berceloteh. Ada tubuh yang siap maju untuk melindungi. Dan ada kaki yang siap berlari bersamanya sepanjang waktu.

Ia mulai berjalan ke arah tempatnya biasa bertemu dengan tubuh yang seakan hadir hanya untuk dirinya. Berharap orang yang ia tunggu datang dan tersenyum. Berharap dapat bercengkerama seperti dulu. Berharap ada kesempatan kedua untuknya memperbaiki kesalahan. Tapi harapan tinggallah harapan.

Harapannya pupus tepat saat matanya menatap orang yang ditunggu hadir. Berjalan santai tanpa peduli lingkungan sekitar. Seakan tak menyadari ada seorang gadis dengan tatapan merindu tengah menatapnya. Sosok itu memasukan benda berbentuk tabung kecil tapi panjang ke dalam mulutnya. Menghisap benda tersebut dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya. Ya, sosok itu merokok.

Bagai tersambar petir di siang bolong, bibir yang siap berucap seketika kelu karena pemandangan di hadapannya. Seakan itu adalah lakban yang dibuat secara kasat mata untuk membungkam bibir tipis tersebut. Adegan sahabatnya merokok kembali tertangkap matanya. Membuat hati sang gadis teriris. Ia tak pernah menyangka sahabatnya akan melakukan tindakan nakal seperti itu.

Lelaki dengan celana jeans dan kaos berwarna biru tua, berjalan keluar rumah. Terlihat pas dengan tubuhnya yang proporsinal. Wajahnya yang tadi terlihat kusam, sekarang terlihat lebih baik. Sepertinya ia sudah mandi sebelumnya. Walau gelap wajahnya tak berkurang banyak. Dan rambut yang tadi berantakan, sekarang tersisir lebih rapi. Aku yakin kalau lelaki yang kupandangi, sahabatku sendiri, akan pergi ke tempat tongkrongannya. Aku tak suka tapi tak punya hak untuk melarangnya juga.

Langkahnya persis sama dengan biasanya. Aku seperti stalker yang selalu tahu tentang dirinya. Menatap semua pergerakan yang ia lakukan. Untuk waktu yang cukup lama di tempat ini. hanya dapat menghembuskan napas dan berjalan pulang selepas menatap tubuh itu. Walau hati kecil merasa berdosa karena tak pernah bisa membawanya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sudah berbulan-bulan gadis tersebut duduk di bangku lapangan hanya untuk melihat sahabat masa kecilnya yang telah berubah. Walau ia tahu sahabatnya sudah berubah drastis hingga mengerikan seperti itu, ia tetap menunggu kehadiran sahabatnya itu. Ada bisikan lembut yang berkata kalau ia butuh sosok lelaki itu.

Penantiannya berlangsung terus menerus. Dengan bibir yang melafalkan doa agar sahabatnya bisa sadar dan berhenti seperti ini. Mata yang tak henti menatap fisiknya dari jauh. Otak yang terus memutar kenangan lama berulang hingga tampak seperti kaset rusak. Dan hati yang teriris tanpa henti karena merasa gagal sebagai sahabat.

Hatinya bergemuruh. Suara hatinya berteriak untuk mematikan ego dan berlari menghampiri sahabatnya. Mengingatkan kalau semua yang ia lakukan salah. Tapi, apa daya, keraguan menghalangi segala tindakannya. Ia tetap takut bertindak.

Bagaimana kalau dia dianggap cerewet? Bagaimana kalau dirinya tak diingat lagi? bagaimana kalau dia hanya dianggap angin lalu? Bagaimana kalau dia malah dimarahi karena sok menjadi pahlawan. Walau nyatanya ia pahlawan kesiangan.

Pikirannya terus membuatnya takut bertindak. Selama ini, walau hati berkata ya, logika berkata jangan. Bukan, bukan logika, sepertinya ego. Sepertinya aku masih memiliki ego yang tinggi seperti yang selama ini dilontarkan sahabatnya saat mereka masih kecil.

Tapi hari ini berbeda, dia berhenti di tengah lapangan dan menatapku. Aku seperti masuk ke dalam matanya. Tatapannya yang biasa saja entah mengapa terlihat dalam dan memahami. Aku merasa semua luka, takut, dan cemas hilang begitu saja. Hanya sebentar, dan dia lanjut berjalan. Beberapa detik yang terasa begitu berarti.

Bisakah aku memutar waktu ke masa lalu? Ke masa dimana kita mulai sibuk dengan kegiatan sekolah. Masa dimana kita mulai mencari jati diri kita sesungguhnya. Masa dimana aku tak hanya memandangmu seperti ini. Seakan kau adalah matahari yang menghidupiku. Matahari yang terlihat begitu dekat, namun sebenarnya jauh. Masa dimana kita sedekat nadi.

Lamunanku seketika buyar karena tepukan lembut di pundakku. Aku mengikuti arah tangan yang menepukku. Dan berdiri di hadapanku seorang bertubuh tinggi besar, dengan segala bentuk cetakan tubuhnya yang selalu terpatri di benakku. Ditambah dengan aroma tubuh yang selalu saja sama walau sudah berlalu sekian tahun.

Gadis kecil memeluk leher lelaki di hadapannya dengan santai di atas sepeda. Menjaga agar tubuhnya tak terjatuh dari sepeda dengan memegang, bukan, memeluk leher pembawa sepeda. Angin menghembuskan aroma tubuh asli lelaki di depannya.

Aroma sabun mandi bercampur dengan keringat. Tak banyak orang yang menyukai aroma ini. tapi gadis kecil sangat menyukai aroma tubuh yang ia hirup. Rasanya begitu menenangkan hanya dengan menghirup aroma tubuh itu.

Terlalu sering mencium aroma tubuh tersebut pun berefek samping lumayan besar. Ia dapat merasakan kehadiran sahabatnya walau masih berjarak sekian meter. Dapat tenang hanya dengan mencium aroma tersebut. Dapat mengingat hingga kapanpun akan bau ini.

Sosok itu menatap mataku dalam, membuatku tak berkutik karena tatapan matanya. Hembusan napas hangat nan teratur yang selalu aku ingat. Senyuman yang walau berbeda, tetapi aku tahu kalau senyum itu hanya miliknya. Ada khas yang tak dapat aku jelaskan tapi aku mengenalinya dengan sangat baik.

Ya, orang yang menepuk pundakku memang dia yang kurindukan selama ini.
 

Cerita Ms. Nerd Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang