Pernahkah berpikir tentang
pertemuan? Seperti mengapa kita bertemu dengan orang lain padahal orang itu
hanya memberi dampak buruk. Mantan yang pernah berselingkuh mungkin? Orang yang
selama sekian tahun kamu suka sayangnya sampai rasa itu pudar, orang tersebut
tak pernah membalas perasaanmu. Atau yang sederhana adalah orang yang
menyebalkan.
Beberapa hari ini aku berpikir
tentang hal itu. Dalam suasana lebaran yang saling memaafkan. Sambil berusaha
memaafkan orang yang sepertinya lebih baik tidak pernah ketemu dan kenal. Sesekali
mencomot cemilan yang ditemukan di rumah sodara. Hingga tanpa sadar, cemilan
yang tersuguh telah berpindah ke perutku sepenuhnya.
Apakah memang sebenarnya ada
orang yang lebih baik tidak pernah kita temui atau berhubungan? Sepertinya tidak.
Entahlah. Persepsi tiap manusia pasti berbeda akibat lingkungan dan faktor lain
yang mendukung. Tapi dulu aku berpikir seperti itu. Mempertanyakan kenapa harus
bertemu atau kenal orang yang sangat menyebalkan.
Nyatanya sekarang aku tak setuju.
Aku sekarang berpikir pasti ada alasan dibalik semua itu. Misalnya seperti aku
yang pernah bertemu satu cowok. Berpacaran dalam beberapa waktu sampai akhirnya
diselingkuhin. Saat itu, aku sangat mempertanyakan kenapa harus kenal cowok itu
jika akhirnya hanya berakhir sakit.
Tapi seiring berjalannya waktu,
aku mulai menyadari hal yang dulu tidak pernah aku sadari. Aku perlahan menjadi
pribadi yang lebih sabar dan lebih menerima keadaan yang ada. Bahkan jauh lebih
dewasa di mata beberapa orang terdekat. Alasannya karena aku yang berhasil
bangkit dan masalah percintaan rasanya menjadi begitu sepele setelah merasakan
sakitnya diselingkuhi.
Anggap saja seperti aku
diberitahu sakitnya diselingkuhi agar aku tidak selingkuh dikedepannya nanti. Seperti
saking sebalnya dengan orang lain karena orang itu begitu bersikap negatif di
matamu. Nyatanya, orang itu sudah berjasa memberitahu jika hal negatif itu
tidak boleh kamu lakukan pada orang lain atau dirimu sendiri. Ya, sesimpel itu.
Seperti ada orang yang merasa
terganggu karena orang lain begitu mengejarnya. Disaat yang bersamaan ia
menjadi pribadi yang tidak mau terlalu mengejar orang lain karena takut
mengganggu seperti apa yang ia pikirkan saat dikejar begitu intensif. Walau ternyata
orang yang diberi ruang sendiri itu tenyata lebih menyukai dikejar
terus-menerus. Entahlah.
Pengalaman memang pembalajaran
yang paling berharga sekaligus membingungkan. Membuat pemikiran manusia menjadi
bercabang. Bahkan sedikit perbedaan sudut pandang dapat merubah segala
ceritanya. Karena adanya perasaan yang tercampur mungkin? Entah juga.
Tapi satu hal yang pasti. Orang yang
menyebalkan itu. Semenyebalkan apapun. Jika kita akhirnya bisa menghilangkan
segala sebal itu bersama dengan helaan napas kita. Perlahan membuat kita
menjadi suatu pribadi yang jauh lebih dewasa. Mungkin karena itu ada yang
namanya memaafkan.
Karena tidak ada manusia yang
sempurna hitam atau putih. Semua manusia adalah makhluk abu-abu yang tak jarang
tersesat. Tapi suatu takdir yang mempertemukan manusia dengan manusia lain,
pasti ada maksud yang kita sendiri tidak mengerti. Tapi pasti ada alasan
dibalik bertemunya seseorang atau berpisahnya seseorang. Apapun itu, mari
bangkit bersama.
